jagomart
digital resources
picture1_Contoh Metode Penelitian 26238 | Ejurnal 066109063


 186x       Tipe DOCX       Ukuran file 0.17 MB       Source: perpustakaan.fmipa.unpak.ac.id


File: Contoh Metode Penelitian 26238 | Ejurnal 066109063
optimasi ekstraksi senyawa flavonoid total daun belimbing wuluh averrhoa bilimbi l 1 2 3 muhammad bishri qolbiya sri wardatun dan mira miranti program studi farmasi fmipa unpak bogor abstrak salah ...

icon picture DOCX Word DOCX | Diposting 02 Aug 2022 | 4 thn lalu
Berikut sebagian tangkapan teks file ini.
Geser ke kiri pada layar.
                 OPTIMASI EKSTRAKSI SENYAWA FLAVONOID TOTAL DAUN BELIMBING
                                          WULUH ( Averrhoa bilimbi L.)
                                                     1)             2)                3)
                          Muhammad Bishri Qolbiya   Sri Wardatun   dan Mira Miranti 
                                   Program Studi Farmasi FMIPA UNPAK – Bogor
                                                   ABSTRAK
               Salah satu tanaman yang biasa digunakan sebagai obat tradisional adalah daun belimbing
               wuluh. Daun belimbing ini dapat digunakan sebagai obat pelangsing tubuh. Sebagian besar
               obat tradisional disajikan dalam bentuk ekstrak karena penyajiannya dinilai lebih efisien dan
               praktis. Salah satu upaya yang dilakukan untuk mengurangi besarnya biaya produksi ialah
               dengan mengoptimumkan ekstrak yang diperoleh. Bermacam-macam upaya telah dilakukan
               untuk mengekstraksi flavonoid dari daun belimbing wuluh. Dalam penelitian ini, daun
               belimbing wuluh diekstraksi dengan metode refluks, pelarut etanol, dan dengan meragamkan
               3 parameter ekstraksi, yaitu konsentrasi pelarut 50, 70, dan 96%; waktu ekstraksi 2,5, 5, dan
               7,5 jam; dan nisbah bahan baku pelarut 1:5, 1:10, dan 1:15. Dalam hal ini dapat dilihat
               pengaruh konsentrasi pelarut, waktu ekstraksi, dan nisbah bahan baku pelarut terhadap kadar
               flavonoid total yang dihasilkan. Penelitian menggunakan rancangan fraksional faktorial.
               Kadar ditentukan dengan menggunakan metode AlCl3 dan diukur dengan spektrofotometer,
               kadar optimumnya   ditentukan   dengan   metode   permukaan   respons   menggunakan
               perangkat lunak   minitab   16.   Persamaan   kadar   flavonoid   total   yang   diperoleh
               adalah Kadar Kadar flavonoid = 2,405 + 0.368 Waktu – 0.0350 Konsentrasi – 0.0972 Nisbah
               -0.0398 Waktu2 + 0.00024 konsentrasi2 + 0.00492 Nisbah2 dengan R2 = 67,64%. Kondisi
               optimum ekstraksi teramati pada konsentrasi pelarut 96%, nisbah bahan bakupelarut 1:15,
               dan waktu ekstraksi 5 jam.
                                                   ABSTRACT
                     One of many plants used for traditional medicine is Averrhoa bilimbi . L leaves. It can
              be used as an antiobesity. Most of traditional medicine are available practically as an extract
              ion. One of the efforts to reduce the production cost is optimizing the extract. Various
              treatments were applied to extract flavonoid fromAverrhoa bilimbi . L leaves. In the research,
              Averrhoa bilimbi . L leaves was extracted using reflux method with ethanol as a solvent, at
              concentrations of 50, 70, and 96%, for 2,5, 5, and 7,5 hours, with sample to solvent ratio of
              1:5, 1:10, and 1:15. All of this conditions were used to study the effect of solvent’s
              concentrations, time, and sample to solvent ratio to total flavonoid content. The data were
              analyzed designed using fractional factorial design. Determination of total flavonoid content
              was   conducted   with AlCl3   method   and   measured   with   spectrophotometer,   and   the
              optimum content was determined by response surface method using Minitab 16 software.
              The obtained model was Content = 2,405 + 0.368 Waktu – 0.0350 Konsentrasi – 0.0972
              Nisbah   -0.0398   Waktu2       +   0.00024   konsentrasi2     +   0.00492   Nisbah2
              with R2 = 67,64%. The optimum condition of extraction was obtained at 96% for solvent
              concentration, 5 hours for extraction time, and 1:15 for the ratio of sample to solvent.
                                                                              Keberadaan senyawa aktif dalam
                             PENDAHULUAN                              tanaman yang tidak larut sempurna dalam
                        Indonesia           kaya          akan        air seperti flavonoid total dalam tanaman
                keanekaragaman   hayati   yang   dapat                membuat   penggunaan   pelarut   organik
                manusia. Indonesia adalah negara hutan                menjadi   salah   satu   pilihan   yang   dapat
                hujan   tropis   yang   kaya   akan                   dipertimbangkan untuk menarik senyawa
                keanekaragaman   flora   untuk   digunakan            tersebut  meskipun biaya produksi menjadi
                sebagai obat tradisional. Banyaknya flora             lebih mahal. Upaya yang dilakukan untuk
                di Indonesia mendorong para ahli untuk                mengurangi   besarnya   biaya   ekstraksi
                menggali sumber-sumber komponen bahan                 flavonoid ialah dengan mengoptimumkan
                alam   dari   tumbuhan   yang   bermanfaat            proses   ekstraksinya.   Kondisi   ekstraksi
                dalam pengobatan berbagai penyakit.                   yang berbeda dapat menghasilkan senyawa
                        Tanaman   yang   bisa   digunakan             golongan flavonoid dalam jumlah yang
                sebagai obat tradisional adalah belimbing             berbeda pula (Farah, 2008)
                wuluh ( Averrhoa bilimbi L.). Tanaman ini                     Hasil penelitian Masithah (2010)
                biasa digunakan sebagai obat dari berbagai            menyebutkan bahwa ekstrak etanol daun
                macam   penyakit,   diantaranya   batuk,              belimbing   wuluh   mengandung   senyawa
                sariawan stomatitis, perut sakit, gondongan           flavonoid,   dimana   senyawa   ini   dapat
                parotitis,   rematik,   batuk   rejan,   gusi         berperan   sebagai   antioksidan   dalam
                berdarah, sariawan, sakit gigi berlubang,             menangkal radikal bebas, oleh karena itu
                jerawat,   panu,   tekanan   darah   tinggi           sangatlah penting untuk mengoptimumkan
                (hipertensi),   kelumpuhan,   memperbaiki             proses   ekstraksi   flavonoid.     Beberapa
                fungsi   pencernaan   dan   radang   rektum.          penelitian   telah   dilakukan   untuk
                Khasiat   belimbing   wuluh   tidak   hanya           mengetahui   kondisi   optimum   dalam
                buahnya   saja   yang   bermanfaat   sebagai          ekstraksi         senyawa           flavonoid.
                obat,   beberapa   bagian   tubuhnya   seperti        Agustiningsih (2010) dalam penelitiannya
                daun   dapat   digunakan   sebagai   obat             menyebutkan bahwa cairan penyari yang
                gondongan dan rematik (Masithah, 2010)                paling   maksimal   menarik   senyawa
                          Obat tradisional sebagian besar             flavonoid   dalam   daun   pandan   wangi
                kini   disajikan   dalam   bentuk   ekstrak,          adalah etanol 96%. Penelitian Farah (2008)
                karena   seiring   perkembangan   zaman,              menyebutkan bahwa cairan penyari etanol
                selera   konsumen   terhadap   sediaan   obat         70% dengan perbandingan 1:10 dan waktu
                tradisional   telah   mengalami   pergeseran.         ekstraksi 3 jam adalah kondisi optimum
                Dahulu sediaan jamu yang diseduh dengan               dalam penarikan senyawa flavonoid dalam
                air   panas   banyak   diminati   masyarakat          daun jati belanda.
                karena   aroman   yang   kuat   dan   karena                  Penelitian   ini   ditekankan   untuk
                adanya   fragmen   ampas   serbuk   yang              mengetahui   kondisi   optimum   dalam
                menurut   sebagian   konsumen   dapat                 penarikan senyawa flavonoid dari daun
                menambah   cita   rasa   jamu.   Produksi             belimbing   wuluh   menggunakan   metode
                sediaan   jamu   merupakan   pilihan   yang           refluks dengan melakukan variasi terhadap
                menguntungkan   karena   biaya   produksi             konsentrasi pelarut, nisbah (bahan baku
                lebih   murah.   Masyarakat   saat   ini              dengan   pelarut)   dan   waktu   ekstraksi,
                menghendaki   sediaan   jamu   dengan                 kemudian   ekstrak   digunakan   untuk
                kemasan   yang   lebih   praktis   karena             penetapan   kadar   flavonoid   secara
                penyajiannya dinilai lebih efisien,   oleh            kuantitatif. Penelitian ini dirancang dengan
                karena   itu   para   pelaku   industri   obat        metode   fraksional   faktorial   untuk
                tradisional   kini   banyak   melirik   sediaan       meminimumkan jumlah penelitian yang
                ekstrak      untuk   dapat   mengikuti                dicobakan. 
                perkembangan selera konsumen tersebut. 
                                                                     Kedua, beberapa tetes larutan asam asetat
                            METODE KERJA                             10%   ditambahkan   kedalam   beberapa
                Pembuatan Simplisia Daun Belimbing                   bagian   ekstrak.   Endapan   kuning
                Wuluh                                                menandakan   adanya   flavonoid.   Ketiga,
                        Daun   belimbing   wuluh   yang              sejumlah   ekstrak   dilarutkan   dalam
                dikumpulkan   dibersihkan   dari   kotoran-          metanol, lalu ditambahkan sedikit serbuk
                kotoran yang menempel yang tak terlihat              Mg dan 1 mL HCl pekat dari sisi tabung.
                secara   kasat   mata   dan   membuang   dari        Terbentuk   warna   jingga   menunjukkan
                bagian daun yang tidak terpakai (busuk,              adanya flavonoid (Rajendra  et al, 2011).
                kering,   dll),   kemudian   dicuci   dengan                 Uji Alkaloid
                menggunakan air yang mengalir sampai                         Sebanyak   0,5   g   sampel   yang
                bersih, dan ditiriskan untuk membebaskan             diperiksa   diencerkan   secara   terpisah
                dari partikel-partikel air. Daun yang telah          dengan   10   mL   alkohol   yang   telah
                bersih   dan   bebas   dari   air   cucian           diasamkan,   selanjutnya   dididihkan   dan
                dikeringkan   dengan   menggunakan   oven            disaring.   Sebanyak   5   mL   filtrat
                pada   suhu   kurang   lebih   450C.   Setelah       ditambahkan 2 mL ammonia encer, lalu
                simplisia kering, kemudian disortasi untuk           dimasukkan   ke   dalam   corong   pisah,
                bagian-bagian   yang   tidak   dapat                 kemudian ditambahkan 5 mL kloform dan
                dibersihkan pada saat sortasi sebelumnya.            dikocok   perlahan.   Fase   kloroform
                Setelah benar-benar kering simplisia siap            ditampung dan dibagi ke dalam 3 tabung
                untuk digrinder kemudian diayak dengan               reaksi.   Tabung   pertama   ditambahkan
                ayakan mesh 30, lalu disimpan dalam                  pereaksi Mayer, hasil positif ditunjukkan
                wadah tertutup rapat.                                dengan adanya endapan putih. Pada tabung
                Penetapan Kadar Air                                  kedua, ditambahkan pereaksi Wagner, hasil
                        Penetapan   kadar   air   dilakukan          positif   ditunjukkan   dengan terbentuknya
                dengan   menggunakan   alat         Moisture         endapan   coklat.   Tabung   ketiga
                Balance dengan cara meletakkan simplisia             ditambahkan pereaksi Dragendorf, hasil
                pada plat lempengan alat sebanyak 1 g.               positif   ditunjukkan   dengan   adanya
                Kemudian   dicatat  hasilnya  pada   saat            endapan merah bata (Rajendra et al. 2011).
                persentase kadar air konstan                                 Uji Tanin
                Penetapan Kadar Abu                                  1.  0,5 g ekstrak dididihkan dalam 10 mL
                                Penetapan   kadar   abu                      air   dalam   tabung   reaksi,   lalu
                        simplisia   dilakukan   dengan   cara                difiltrat,   ditambahkan   beberapa
                        lebih   kurang   2   gram   serbuk                   tetes   FeCl   0,1%,   hasil   poistif
                                                                                         3  
                        ditimbang seksama, dimasukkan ke                     ditandai   dengan   terbentuknya
                        dalam   krus   porselen   yang   telah               warna hijau kecoklatan atau biru
                        dipijarkan   dan   ditara   ,   pijaran              kehitaman  
                        diratakan   perlahan-lahan   hingga          2.  0,5   g   ekstrak   yang   diperiksa
                        arang habis, didinginkan, kemudian                   dimasukkan   ke   dalam   tabung
                        ditimbang.   Kadar   abu   dihitung                  reaksi,   dilarutkan   dengan   sedikit
                        terhadap   bahan   yang   telah                      akuades kemudian dipanaskan di
                        dikeringkan   di   udara   (Depkes                   atas penangas air, lalu diteteskan
                        RI,1995)                                             dengan larutan gelatin 1% dalam
                Uji Fitokimia                                                NaCl 10%, hasil positif ditandai
                Uji Flavonoid                                                dengan terbentuknya endapan putih
                      Terdapat   tiga   metode   yang                        menunjukkan   adanya   tanin
                digunakan untuk uji flavonoid. Pertama,                      (Rajendra et al, 2011).
                beberapa tetes FeCl 1% kedalam beberapa              Uji Saponin
                                     3 
                bagian   larutan   ekstrak.   Warna   hijau                  Masukkan   0,5   g   ekstrak   yang
                kehitaman menunjukkan adanya flavonoid.              diperiksa   ke   dalam   tabung   reaksi,
              tambahkan 5 mL air panas, dinginkan dan           dimasukkan ke dalam labu ukur 100
              kemudian   kocok   kuat-kuat   selama   10        mL dan dilarutkan   dengan   natrium
              detik.   Hasil   positif   ditandai   dengan      asetat   hingga   larut,   kemudian
              terbentuknya buih yang mantap selama              ditambahkan dengan air suling sampai
              tidak kurang dari 10 menit, setinggi 1 cm         tanda batas dan dihomogenkan.
              sampai   10   cm.   Buih   yang   terbentuk   3.  Pembuatan larutan blanko
              ditambahkan dengan 3 tetes minyak zaitun          Dipipet 2,5 mL alumunium klorida 2%
              dan dikocok kuat, hasil positif ditandai          ke dalam labu ukur 25 mL, kemudian
              dengan pembentukan emulsi (Rajendra et            ditambahkan 2,5 mL Na asetat 1 M dan
              al. 2011).                                        ditepatkan dengan air suling.
              Ekstraksi Flavonoid                           4.  Pembuatan standar induk 100 ppm
                     Ekstraksi dilakukan menggunakan            Ditimbang   100   mg   kuersetin,
              metode   refluks   dengan   meragamkan   3        dimasukkan ke dalam labu ukur 100
              peubah,   yaitu   konsentrasi   etanol   (50%,    mL dan dilarutkan dengan metanol
              70%, dan 96%), waktu (2.5, 5 dan 7.5              sampai tanda batas lalu dihomogenkan
              jam), dan nisbah bahan baku (g) per ml            (1000   ppm).   Untuk   mendapatkan
              pelarut   (1:5,   1:10,   dan   1:15).   Ekstrak  larutan   standar   kuersetin   100   ppm,
              dipekatkan   dengan   penguap   putar   dan       dilakukan dengan cara dipipet 10 mL
              ditimbang       untuk        menentukan           larutan standar 1000 ppm, dimasukkan
              rendemennya.   Selanjutnya   dianalisis           ke   dalam   labu   ukur   100   mL   dan
              kandungan flavonoid total dengan cara             dilarutkan   dengan   metanol   sampai
              mengukur   serapannya   menggunakan               tanda batas (100 ppm).
              spektrofotometer   UV-Vis.   Kombinasi        Pengukuran   panjang   gelombang
              perlakuan dapat di lihat pada Tabel 1.        maksimum
                       Tabel 1. Kombinasi perlakuan                Sebanyak 2 mL larutan standar
                          yang dicobakan                    kuersetin 10 ppm, ditambah 0,1 mL AlCl3
              No     Waktu      Konsentrasi    Nisbah       10%, 0,1 mL natrium asetat 1 M dan 2,8
               .       ( jam ) Pelarut ( % )                mL air suling. Dikocok homogen lalu
               1       2,5           70         1:10        dibiarkan   selama   30   menit,   diukur
               2        5            96         1:10        absorbannya   pada   panjang   gelombang
               3       7,5           50         1:10        380-780   nm   dengan   menggunakan
               4       7,5           70         1:5         spektrofotometer.
               5       2,5           96         1:5         Optimasi waktu inkubasi
               6        5            50         1:5                Sebanyak 2 mL larutan standar
               7        5            70         1:15        kuersetin 10 ppm, ditambah 0,1 mL AlCl3
               8       2,5           50         1:15        10%, 0,1 mL natrium asetat 1 M dan 2,8
               9       7,5           96         1:15        mL  air   suling.   Serapan   diukur   pada
               Analisa kuantitatif Flavonoid                panjang gelombang maksimum pada 5, 10,
               Pembuatan larutan pereaksi                   15, 20, 25 dan 30 menit, sehingga didapat
              1.  Pembuatan natrium asetat 1 M              waktu serapan optimum yang stabil.
                  Natrium asetat 1 M dibuat dengan cara      Pembuatan Deret Standar
                  ditimbang   tepat   8,3   gram   natrium         Dibuat     konsentrasi    standar
                  asetat, kemudian dimasukkan ke dalam      kuersetin yaitu 10, 20, 30, 40, dan 50, dari
                  labu   ukur   100   mL   dan   dilarutkan setiap konsentrasi diambil 2 mL, ditambah
                                                            0,1 mL AlCl  10%, 0,1 mL natrium asetat
                  dengan air suling sampai tanda batas                  3
                  lalu dihomogenkan.                        1 M dan 2,8 mL air suling. Dikocok
              2.  Pembuatan alumunium klorida 2%            homogen   lalu   dibiarkan   selama   waktu
                  Alumunium klorida 2% dibuat dengan        optimum,   diukur   absorbannya   pada
                  cara   ditimbang   tepat   2   gram       panjang gelombang maksimal. 
                  alumunium   klorida,   kemudian           Pembuatan larutan uji
Kata-kata yang terdapat di dalam file ini mungkin membantu anda melihat apakah file ini sesuai dengan yang dicari :

...Optimasi ekstraksi senyawa flavonoid total daun belimbing wuluh averrhoa bilimbi l muhammad bishri qolbiya sri wardatun dan mira miranti program studi farmasi fmipa unpak bogor abstrak salah satu tanaman yang biasa digunakan sebagai obat tradisional adalah ini dapat pelangsing tubuh sebagian besar disajikan dalam bentuk ekstrak karena penyajiannya dinilai lebih efisien praktis upaya dilakukan untuk mengurangi besarnya biaya produksi ialah dengan mengoptimumkan diperoleh bermacam macam telah mengekstraksi dari penelitian diekstraksi metode refluks pelarut etanol meragamkan parameter yaitu konsentrasi waktu jam nisbah bahan baku hal dilihat pengaruh terhadap kadar dihasilkan menggunakan rancangan fraksional faktorial ditentukan alcl diukur spektrofotometer optimumnya permukaan respons perangkat lunak minitab persamaan r kondisi optimum teramati pada bakupelarut abstract one of many plants used for traditional medicine is leaves it can be as an antiobesity most are available practically e...

no reviews yet
Please Login to review.