PESAN LINGKUNGAN DEEP ECOLOGY DALAM FILM
(Studi Analisis Wacana Representasi Pesan Penyelamatan Lingkungan Deep Ecology
dalam Film Dokumenter Diam & Dengarkan Karya Mahatma Putra)
Mutiara Nuralita Saputri
Deniawan Tommy Chandra Wijaya
Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik
Universitas Sebelas Maret Surakarta
Abstract
"Diam & Dengarkan” is a documentary film produced by Anatman Pictures directed
by Mahatma Putra. This film was released on June 2020 through Anatman Pictures
YouTube channel. This study aims to find and determine the meaning of
environmental issue in a deep ecology perspective in the "Diam & Dengarkan" . This
documentary film approach the environmental awareness through expository in the
midst of the Covid-19 pandemic. Unlike from other environmental-themed
documentaries, this film voices that everyone have the same responsibilty for saving
the environment. Which is in line with the environmental etchics theory, especially
deep ecology. Therefore, this research is important to reveal how the film "Diam &
Dengarkan" expressed environmental content form deep ecology perspective. The
study uses qualitative descriptive research, method study document/text with
discourse analysis techniques and uses data collection techniques which are carried
out by means of documentation. The theory used by researchers to examine the
content of the film "Diam & Dengarkan" is the theory of deep ecology environmental
ethics from Arne Naess and inquired using the discource analysis methods from
M.A.K Halliday. Therefore, discourse analysis is carried out in three stages, field of
discourse, tenor of discourse, and mode of discourse. Based on the research that has
been done by the researcher, it was found ten scenes that represent environmental
preservation from deep ecology perspective in the documentary film "Diam &
Dengarkan". The representation is in the form narration, and visualization which
also known that the narrative form in this film is the most dominant element.
Keywords: Film, Environment, Deep Ecology, Discourse Analysis
PENDAHULUAN
Pandemi Covid-19 memberi dampak dan perubahan yang besar kepada dunia.
Perubahan akibat kebijakan tersebut tidak hanya mempengaruhi ekonomi, pendidikan,
dan sosial budaya, namun juga lingkungan. Kondisi pandemi nyatanya memberi
dampak negatif khususnya pada timbulan sampah, terutama sampah plastik dan
1
sampah medis. Mengingat, kerusakan lingkungan sudah menjadi isu yang menyita
perhatian dunia jauh sebelum adanya pandemi Covid-19. Upaya menyelamatkan
kondisi lingkungan dengan kampanye-kampanye pelestarian bermunculan baik dari
pemerintah maupun dari komunitas-komunitas lingkungan. Namun, permasalahan
lingkungan sulit terselesaikan tanpa partisipasi masyarakatnya. Kesadaran menjadi
kunci utama untuk mengajak masyarakat ikut bergerak. Memiliki pandangan bahwa
manusia dan bumi adalah suatu yang tidak dapat dipisahkan telah lama digaungkan
dalam teori etika lingkungan khususnya paham deep ecology. Deep Ecology berasal
dari gagasan seorang filsuf Norwegia Arne Naess yang menjadikan teori ekosentrisme
sebagai basis nilai dan moral gerakan pelestarian lingkungan. Naess berpandangan
bahwa manusia merupakan bagian dari bumi dalam tatanan ekologis dan
memperlakukan alam sebagai sesuatu yang mempunyai nilai intrinsik yang perlu
dihormati dan dijaga oleh manusia (Satmaidi, 2015:5) .
Penyebaran kampanye pesan pelestarian lingkungan secara massif salah satunya
melalui film dokumenter. Film dokumenter merupakan bagian dari media massa yang
diklasifikasikan sebagai jenis film non fiksi. Fred Wibowo menyebutkan dalam
Rikarno (2015:139) bahwa program dokumenter adalah program yang menyajikan
suatu kenyataan berdasarkan pada fakta objektif yang memiliki nilai esensial dan
eksistensial, artinya menyangkut kehidupan, lingkungan hidup dan situasi nyata. Hal
ini disadari oleh Anatman Pictures yang dikenal sebagai rumah produksi pembuat film
dokumenter. Kondisi Pandemi Covid-19 merangsang kreativitas dan kepekaannya
dalam melihat sesuatu yang lebih menakutkan daripada virus corona, yaitu kerusakan
lingkungan. Kemudian sebuah ide untuk membuat film dokumenter yang
menyampaikan pesan-pesan mengenai lingkungan untuk audiens Indonesia tercetus
pada masa awal terjadi pandemi. Film dokumenter tersebut diberi nama Diam &
Dengarkan atau serial heal the world.
Melalui film dokumenter berdurasi 86 menit ini, kisah dibagi dalam 6 babak.
Film Diam & Dengarkan banyak mengungkap fakta-fakta kerusakan lingkungan yang
ternyata lebih banyak bersumber dari aktivitas domestik. Film ini berupaya
memberikan perenungan, dan mengajak masyarakat untuk berperan setiap harinya
dalam hal-hal kecil demi memperlambat kerusakan lingkungan.
2
Sebagai satu kesatuan film, Diam & Dengarkan menggunakan gaya ekspositori
dalam penyampaian pesannya. Pilihan footage, narator, audio, serta ilustrasi dikemas
dengan berkolerasi sedemikian rupa secara menarik dan unik. Film Diam &
Dengarkan sendiri tak lepas dari penggunaan bahasa dalam menyampaikan pesan
maupun makna. MAK Halliday menyampaikan bahwa penggunaan bahasa dalam
proses sosial memiliki kaitan erat dengan wacana (Sumarlam, dkk., 2008:17. Wacana
sebagai satuan bahasa terlengkap, terbagi dari wacana lisan (seperti pidato, film,
tayangan televisi) dan tulisan (seperti novel, surat, artikel) yang bersifat kohesif dan
koheren. Dalam mengungkap suatu wacana, dikenal metode analisis wacana dalam
bidang Ilmu Komunikasi. Menurut Pawito, analisis wacana merupakan metode untuk
mengkaji wacana (discourse) yang terdapat atau terkandung di dalam pesan-pesan
komunikasi baik secara tekstual maupun kontekstual (Pawito, 2007:170).
Permasalahan lingkungan dan uniknya pesan pelestarian lingkungan dari Film
Diam & Dengarkan dalam menyampaikan pesan serta kesan mendalam kepada
audiensnya mengenai isu lingkungan yang sangat positif, menjadi alasan peneliti
untuk melihat bagaimana wacana pelestarian lingkungan disuarakan dalam Film Diam
& Dengarkan karya Mahatma Putra melalui tinjauan deep ecology. Peneliti
menguraikan wacana pesan pelestarian lingkungan tersebut menggunakan analisis
wacana M.AK Halliday melalui tahap medan wacana, pelibat wacana, dan mode
wacana.
RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan uraian diatas, maka dapat dirumuskan permasalahan, yaitu:
Bagaimana Film Diam & Dengarkan merepresentasikan pesan-pesan penyelamatan
lingkungan dalam tinjauan deep ecology?
TINJAUAN PUSTAKA
1. Komunikasi Lingkungan
Flor (2004) dalam (Ardian, 2018:3) mendefinisikan komunikasi lingkungan
sebagai bentuk pengaplikasian pendekatan komunikasi, prinsip, strategi, dan teknik
terhadap tata kelola serta perlindungan lingkungan. Oravec dan Klurke (2004) dalam
(Yenrizal, 2017:11), pada literatur berbeda menyebutkan bahwa komunikasi
3
lingkungan adalah suatu studi tentang cara pandang manusia dalam melihat,
mengetahui, dan membangun secara sosial budaya terhadap alam sekitarnya, dengan
menggunakan bahasa dan simbol-simbol tertentu, sebagai bahan untuk menuntun
perilaku manusia dalam bertindak terhadap lingkungan.
Sementara komunikasi lingkungan menurut Cox (2013) dalam (Ardian, 2018:3)
didefinisikan sebagai studi tentang cara manusia berkomunikasi tentang lingkungan,
pengaruh dari komunikasi tersebut terhadap persepsi manusia terhadap lingkungan,
diri sendiri dan hubungan manusia dengan lingkungan. Komunikasi lingkungan
merupakan wahana atau alat pragmatis dan konstitutif untuk mempelajari dan
mengerti tentang lingkungan termasuk hubungan kita terhadap lingkungan.
Cox dalam (Ardian, 2018:3-4) memaparkan bahwa area studi dari komunikasi
lingkungan mencakup:
1) Retorika dan wacana lingkungan, merupakan area paling luas dalam studi
komunikasi lingkungan yang mencakup retorika dari aktivis lingkungan, tulisan
mengenai lingkungan, kampanye kehumasan bisnis serta media dan website.
2) Media dan jurnalisme lingkungan, merupakan area studi yang fokus pada
bagaimana pemberitaan, iklan, program komersial dan situs internet
menggambarkan masalah alam dan lingkungan.
3) Partisipasi publik dalam pengambilan keputusan mengenai isu lingkungan
4) Edukasi publik dan kampanye advokasi atau disebut juga social marketing,
merupakan area studi yang mencakup kampanye-kampanye yang bertujuan untuk
merubah perilaku masyarakat untuk mencapai suatu tujuan sosial atau lingkungan
yang diinginkan.
5) Kolaborasi lingkungan dan resolusi konflik, merupakan area studi yang mengkaji
model alternatif dalam mengatasi ketidakpuasan terhadap partisipasi publik dan
metode resolusi konflik.
6) Komunikasi risiko, area studi yang mengevaluasi efektivitas strategi komunikasi
dalam menyempaikan pesan/ informasi teknis mengenai kesehatan dengan
pendekatan yang lebih modern, yakni melihat dampak dari pemahaman masyarakat
terhadap risiko, dan penilaian publik dalam menerima risiko.
4
no reviews yet
Please Login to review.